Cinta, Islam dan Valentine 10 Februari 2009
Posted by Andi Syahwal Mattuju B. in Aqidah, Artikel, Berita, Opini.Tags: Cinta, islam, Syari`at, valentine
trackback
Beberapa putaran bumi ke depan, Hari Kasih Sayang atau Valentine’s Day tiba. Tepatnya pada tanggal 14 Februari ini. Tradisi peringatan tersebut memang datang dari Barat.
Ini dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, ini memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya cinta terhadap Tuhan, kasih antara sesama, pasangan suami-istri, orangtua-anak, kakak-adik, bahkan juga bermakna bagi mereka yang menanti dengan penuh harap cemas nasib cintanya. Hmm….
Maka pada coretan khusus ini, aku hanya berusaha fokus pada hubungan cinta antara dua anak manusia yang berlainan jenis seksual, atau “Cinta Erotis” sekadar meminjam istilah Erich Fromm (Lihat The Art of Loving).
Perayaan Valentine’s Day yang identik pula dengan pemberian kado, disadari atau tidak, telah diserap oleh orang-orang Indonesia. Sudah banyak orang Indonesia yang merayakannya dengan kebiasaan masing-masing.
Kini, jika Anda berjalan-jalan ke mall atau pusat perbelanjaan Ibukota, hiasan perayaan Imlek yang didominasi warna merah darah telah diganti warna merah jambu. Pada setiap helaian pita atau balon, ada tergores nama seorang tokoh suci dari Roma asal abad ketiga, Santo Valentine.
Dari namanya saja, perayaan Hari Kasih Sayang ini serasa memiliki perpaduan sebuah tradisi yang bernuansa Kristiani dan Roma kuno. Ada beberapa versi mengenai legenda sosok Santo Valentine ini.
Diantaranya. Dahulu, seorang pemimpin agama Katolik bernama Valentine bersama rekannya Santo Marius secara diam-diam menentang Pemerintahan Kaisar Claudius II kala itu. Pasalnya, kaisar tersebut menganggap bahwa seorang pemuda yang belum berkeluarga akan lebih baik performanya ketika berperang. Maka, ia melarang para pemuda menikah, demi menciptakan prajurit perang yang potensial.
Nah, Valentine tidak setuju dengan peraturan tersebut. Ia secara diam-diam tetap menikahkan setiap pasangan muda yang berniat untuk mengikat janji dalam sebuah perkawinan. Hal ini dilakukannya secara rahasia. Lambat laun, aksi Valentine tercium oleh Claudius II. Valentine harus menanggung perbuatannya. Ia dijatuhi hukuman mati. Kasihan kan…
Selama mendekam di balik jeruji besi menunggu hadirnya hari eksekusi, Valentine jatuh hati pada anak gadis seorang sipir penjara. Gadis yang dikasihinya itu senantiasa setia menjenguk Valentine di penjara. Tragisnya, sebelum ajal tiba, Valentine menorehkan sebuah surat untuk sang gadis.
Ada tiga buah kata yang tertulis sebagai tanda tangannya di akhir surat dan menjadi populer hingga saat ini, yang dalam Bahasa Inggris kerap ditulis menjadi ‘From Your Valentine.’
Akhirnya, sekitar 200 tahun sesudah itu, Paus Gelasius meresmikan tanggal 14 Febuari tahun 496 sesudah Masehi sebagai hari untuk memperingati Santo Valentine. Ekspresi perwujudan cinta Valentine terhadap gadis yang dicintainya itu masih terus digunakan oleh banyak umat manusia lintas agama dan budaya, dalam rentang waktu 16 abad, hingga masa kini.
Tradisi sejumlah agama besar memang terlibat aktif mengabadikan kisah “Cinta Erotis” para tokohnya. Tidak itu saja, sejarah agama-agama besar dunia juga meninggalkan napak tilas kisah cinta erotis para tokohnya disertai keterangan tentang kompleksitas hubungan antara laki-laki dan perempuan ini.
Kita sebut saja, sejarah lahirnya Taj Mahal yang amat indah dan monumental di India dengan sejumlah peperangan yang menelan korban ribuan nyawa, semuanya juga berangkat dari kompleksitas dan misteri Cinta Erotis ini. Kisah klasik seputar tragedi cinta erotis antara Romeo dan Juliet di Barat, Layla Majnun di Parsia, atau legenda pembangunan Candi Prambanan yang menjadi landmark sejarah kejayaan kerajaan (baca: agama) Hindu di Nusantara, semuanya adalah contoh adanya kekuatan dahsyat yang terpendam yang bersumber dari Cinta Erotis masing-masing pelakunya.
Nah, seperti halnya tradisi Agama Katolik (Roma) di atas, sejarah Taj Mahal, Candi Prambanan Hindu dan kisah-kisah cinta klasik tersebut, dalam tradisi Islam, kita juga dikenalkan dengan kisah tragedi cinta erotis putera puteri Nabi Adam dan Siti Hawa, yakni kisah konflik asmara antara Habil dan Qobil yang bersaing memperebutkan cinta saudari perempuan mereka. Konflik cinta ini berakhir dengan kematian salah satu putera Adam-Hawa itu. Kematian ini juga mengawali pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia!
Pun dalam kisah yang lain, Al-Qur’an juga menceritakan kisah cinta erotis Zulekha terhadap Nabi Yusuf. Bahkan, kisah ini dituturkan Al-Qur’an dalam sebuah surah tersendiri; Surah Yusuf.
Dalam untaian kehidupan Rasulullah Muhammad SAW pun, para ulama dalam rentang sejarah Islam tak pernah alpa menyebutkan besarnya rasa cinta erotis Siti Khadijah Al-Kubra terhadap seorang pemuda bernama Muhammad Ibn Abdullah. Pemuda jujur berusia 25 tahun yang bekerja sebagai distributor sekaligus pengecer komuditas dagang Khadijah ke Negeri Syam dan Basroh.Karena tertarik pada kepribadiannya yang agung dan kelihaiannya berdagang, tanpa sungkan janda berusia 40 tahun itu meminta kesediaan sekretaris pribadinya, Nafsiah binti ‘Aliyah, supaya mengajukan pinangan pada sang paman Abu Tholib, agar Muhammad sudi menjadi suaminya.
Pernikahan pun digelar. Pasangan ini dikaruniai enam anak, dua laki-laki: Qasim dan Abdullah, keduanya meninggal waktu masih bayi – dan empat orang anak wanita: Fatima az-Zahra, Zainab, Ruqaya, dan Ummi Kalsum. Karena Qasim-lah kadang-kadang Nabi disebut Abul Qasim (ayah Qasim). (Lihat, Tabaqot Al-Kubro, Ibn Saad. Lihat juga Shoheh Muslim, Imam Muslim. Pada yang Bab menerangkan membolehkan meratapi kuburan).
Khadijah sempat mendampingi Muhammad 25 tahun lamanya setelah perkawinan. Dialah wanita dan manusia pertama yang menyatakan keimanan dan kepercayaan penuh terhadap agama “baru” yang dibawa suaminya Muhammad, di saat belum seorang percaya manusia pun percaya. Wanita inilah yang menemani dan menguatkan Muhammad di saat beragam ancaman, teror, penghinaan datang bertubi-tubi. Wanita mulia inilah yang mengorbankan semua kekayaan yang ia miliki untuk tugas suci suami tercinta. Dia pula yang mendekap, menyelimuti, menenangkan dan meyakinkan Muhammad akan kebenaran risalah Ilahi yang diterima.
Khadijah meninggal dunia tiga tahun sebelum Hijrah. Kepergian istri mulia ke haribaan Ilahi itu meninggalkan duka mendalam pada diri Rasulullah. Beliau sangat terpukul dan sedih. Momen ini diberi sebutan khusus dalam sejarah Islam sebagai “’Aamul Khuzni,” tahun duka cita.Para ulama percaya, Khadijah adalah isteri yang paling dicintai Nabi diantara semua istri beliau, termasuk Siti Aisyah. Rasulallah pun masih kerap memuji dan menyebut-nyebut kebaikan dan keutamaan almarhumah istri pertamanya itu di hadapan para istrinya yang lain. Setiap kali melihat wajah Fatimah putrinya, Nabi kerap teringat Khadijah. Fatimah memang mengingatkan beliau pada Khadijah, karena putrinya itu mewarisi kecantikan fisik, keanggunan dan kemuliaan almarhumah ibunda.
Seperti halnya kisah cinta erotis Rasulullah SAW tersebut, para sejarawan muslim juga mengabadikan kisah cinta erotis para putri Nabi. Diantara yang paling banyak dirujuk adalah kisah cinta erotis Siti Fatimah dengan Sayyidina Ali Ibn Abi Tholib.
Fatimah merupakan gadis cantik, cerdas dan berperangai mulia. Karenanya tak heran bila banyak pria, diantaranya para sahabat utama Rasulullah jatuh hati padanya. Beberapa tokoh senior seperti Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Ibn Al-Khattab, Ustman Ibn Affan pernah menyatakan cinta mereka pada gadis ini. Tapi semuanya ditampik.Bahkan, Ali Ibn Abi Tholib yang kelak menjadi suaminya, pernah pula ditampik cintanya beberapa kali. Karena memang sejak awal Fitimah tidak sedikitpun menaruh rasa pada pemuda itu. Memang Ali sempat ragu, cemas dan gundah. Tapi ia bukan pemuda yang mudah putus asa, karena keyakinannya yang tinggi bahwa gadis itu memang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupnya, pengisi kelemahannya, penutup kekurangannya, maka ia tetap berusaha penuh harap.
Hingga akhirnya, dengan izin Allah, mereka menikah. Sejarah sudah banyak mencatat, kekuatan cinta erotis mereka dan kepasrahan pada Allah, telah menjadi kekuatan tersendiri dalam meniti pijak demi pijak anak tangga penderitaan dalam membina rumah tangga dan membesarkan kedua putera belahan jiwa; Hasan dan Husein.Setelah saya sebutkan beberapa contoh kisah erotis yang memberikan daya dorong dan kontribusi besar dalam pengembangan agama-agama besar dunia; Katolik, Hindu dan Islam, saya juga mengingatkan bahwa cinta erotis pun berpotensi negatif. Dalam Al-Qur’an kita diingatkan oleh drama kosmis Nabi Adam dan istri beliau Siti Hawa (lihat penuturan kisah ini dalam Al-Qur’an: Surah Al-Baqorah 130-135).
Dalam sejumlah kitab tafsir klasik, diantaranya; Tafsir Al-Maraghi dan Tafsir Ibn Katsir disebutkan, awalnya Syetan tidak berhasil menggoda Nabi Adam agar melanggar perintah Allah yang melarang mendekati (apalagi memakan) pohon khuld (keabadian). Tidak berhasil menggoda Adam, Syetan beralih menggoda Siti Hawa, dan berhasil. Siti Hawa lah yang berhasil meyakinkan Nabi Adam untuk memakan buah Khuld, yang dengan sendirinya membuat mereka berdua melanggar titah Allah itu.
Tentu saja penafsiran yang lebih dipengaruhi oleh unsur-unsur Israiliyyat (Keyahudian –karena memang umat Yahudi mempercayainya demikian) di atas bisa kita kritisi, bahkan kita bantah karena, selain tidak didukung oleh penjelasan lain dalam Al-Qur’an dan Hadist Shoheh, juga sangat bias gender. Bahkan juga, bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang lain yang menyebutkan kesetaraan dan kemitraan peran pria dan wanita, suami dan istri. (Qs. Alu Imran:195, tentang asal kejadian laki-laki dan perempuan; Qs. An-Nisa:21, dalam konteks hubungan suami istri; Al-Baqorah:187, bahwa kemitraan suami istri dinyatakan sebagai kebutuhan timbal balik; At-Tawbah:71, juga dalam kegiatan sosial).
Meski demikian, saya tidak ingin memperpanjang isi coretan ini dengan menjelaskan argumentasi-argumentasi yang membantah model penafsiran di atas. Melainkan, model penafsiran bias gender ini sengaja saya ajukan untuk sekadar memberi contoh –he..he…he…meski terkesan memaksakan, karena saya sendiri tidak setuju- yang diambil dari Kitab Suci (sebab kalau contoh dalam kehidupan manusia biasa tentu teramat sangat banyak kan), bahwa selain potensi positifnya, cinta erotis juga menyimpan potensi negatif.
Mungkin karena potensi negatif inilah, Nabi Adam dan Siti Hawa terusir dari “syurga”. Tentu saja, dosa beliau berdua telah dimaafkan oleh Allah seperti yang Dia sebutkan pada potongan ayat selanjutnya pada rangkaian drama kosmos ini dalam Al-Qur’an. Bahkan, jika kita memperhatikan kaitan ayat per ayat dengan sedikit lebih teliti, ditambah dengan penguraian susunan grammatical kata per kata pada Surat Al-Baqorah, ayat 130-135 yang menceritakan drama kosmis ini, maka tampak cukup jelas bahwa semuanya tidak lepas dari skenario Tuhan.
Artinya, Adam dan Hawa beserta anak cucu memang ditakdirkan untuk hidup di dunia sebagai khalifah, bukan di “syurga.” –sengaja kata ini saya beri tanda petik, karena ada sejumlah perbedaan penafsiran tentang “syurga” yang ditempati Adam-Hawa itu. Lagi-lagi saya tidak akan menjelaskannya disini-.
Pertanyaan selanjutnya yang dapat kita ajukan disini, kenapa sih, agama-agama besar itu terlibat aktif mengabadikan kisah cinta erotis para tokohnya. Pengabadiannya bukan hanya pada tataran sejarah masing-masing agama, bahkan pada tataran normatif: kitab sucinya.
Kita bisa saja melist sejumlah jawaban untuk pertanyaan iseng ini. Sebagian jawaban untuk ini juga, secara tidak langsung, sudah saya sebutkan saat mencantumkan beberapa contoh sisi positif cinta erotis ini.
Tapi saya lebih senang membiarkan Al-Qur’an menjawabnya sendiri. Untuk itu secara padat, jawabannya ada pada Al-Qur’an: Surah Ar-Rum ayat 21. Terjemahannya kira-kira begini: “Dan dari tanda-tanda kebesaran-Nya (adalah), Dia menciptakan kamu berpasangan dari jenis mu sendiri. Agar kamu merasa tenteram dengan pasangan mu. Dan Dia menjadikan antara kalian rasa kasih dan sayang (cinta). Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.”
Maka dengan berlandaskan sejumlah alasan yang saya tulis dalam coretan ini. Saya rasa sudah merupakan kewajiban kita untuk mensyukuri rasa cinta erotis yang Allah anugerahkan pada hati kita, tentu dalam pemaknaan seluas dan sepositif yang kita bisa.
Diantaranya, adalah dengan merayakan cinta erotis ini sebagai bentuk kecil dari rasa syukur. Dan karena mempertimbangkan konteks masyarakat Indonesia kini yang mengambil momentum perayaan Valentine’s Day –seperti yang sudah saya sebutkan di awal-, maka kita pun boleh merayakannya.
Salam, semoga suatu hari, cinta dengan kesadaran ketuhanan berkenan hadir di hati tiap kita. Dengan cinta seperti inilah, cinta akan memenuhi kehendak Sang Pemiliknya, Allah. Amin. Wallahu a’lam bi ashowab.






nda setuju,,,,di bilang hari kasi sayang,,,
napa mesti tanggal 14,,,, mending rayain aja pas ultah gw 4 juli…
salam.. tidak semstinya kita sebagai alumni pesantren, atw lebih tepatnya lagi kita adalah umat islam untuk berpartisifasi dalam perayaan valentino atw apalah namanya…
buat andi adhar betul, kenapa mesti tanggal 14 kan hari laen juga bisa yang penting halal, kalau mau berkasih sayang tiap hari jugak bisa tapi syratnya nikah dulu gih…
pas ultah jugak itu adalah produk barat jadi dalam islam gak boleh..
kembali pada valentino.. karena ini adalah merupakan perayaan prodak barat alias non muslim, maka telah difatwakan di Sudan sana oleh otoritas ulama agar memboikot valontono day ini.. sebab ini akan merusak akhlak pemuda dan pemudi islam..
misalnya menghabiskan uang untuk jalan2.. bli hadiah ini dan itu… keluar berdua-an dgn bukan muhrim.. sampe malam hingga terjad hal hal yang melanggar syariat…
“Valentine’s Day berasal dari negara-negara
Barat. Saya serukan muslim untuk tidak meniru umat Kristen,” kata
pendakwah Sheikh Hassan Hamid dalam statemen seperti dilansir kantor berita Reuters, Jumat (13/2/2009).
perkataan ini sangat betul.. sebab jika kita meniru mereka maka kita akan termasuk org yang melanggar anjuran Rasulullah saw dimana beliau SAW telah bersabad:
من تشبه بقوم فهو منهم
“barang siapa yang menirukan suatu kaum maka dia adalah bagian dari mereka”
artinya kita akan termasuk bagian dari barat atw non muslim dengan otomatis kita akan tergeser walau sedikit dari kaum kita yakni umat islam.. na`udzu billahi mindzalik…
sungguh merugi hidup ini jika yang berkata adalah Nabiyullah saw kemudian kita melanggarnya…
“Uang yang dihabiskan di Valentine’s Day akan lebih baik digunakan untuk mendorong kaum muda menikah,”.
sepakat… dengan menikah hidup berkasing sayang akan lebih aman dan damai tentram tanpa dihantui rasa bersalah dan dosa..
stop doing what is not recommanded by our religion..
wish you all the best..
selamat dunia akhirat…
wassalam
salam.. sebelum terlalu jauh bercerita dan menerangkan apa arti dan nota benenya valentino day mgkin ada baiknya dikaji kembali apa maksud surah Ar-rum yang ditulis diatas..Allah menciptakan kita berpasang pasangan dan disitulah letak kebesaran Allah sebagai pencipta.. kita diciptakan berpasang2an agar supaya hidup kita rasa tentram dan dapat berkasih sayang tanpa adanya perasan bersalah tentunya!!! tidakkah kita merasa bersalah dan rasa berdosa kalau kita menjalin hubungan yang sdah jelas ditentantg oleh ajaran agama kita???ini adalah satu budaya yang pada kk sangat jauh dari nuansa islami.. makanya cepat2 saja menikah biar aman valentinonya ya, heheheh
HARI KASIH SAYANG
“ sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan kasih sayangNya kecuali kepada
orang belas kasihan kepada orang lain “ ( Hadis riwayat Tirmidzi )
Pada pertengahan bulan Februari yang lalu, banyak di antara generasi muda muslim yang ikut-ikutan hari Valentine ( Valentine’s day ) yang juga mereka sebut dengan Hari Cinta Kasih atau Hari Kasih Sayang. Padahal kalau dikaji lebih lanjut, perayaan tersebut adalah budaya Barat yang berasal dari salah satu tradisi dalam agama nasrani. Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh merayakan hari tersebut, sebab hari itu merupakan bagian dari perayaan agama Kristen dan tradisi romawi. Pada awalnya bangsa Romawi merayakan acara untuk memperingati suatu hari besar mereka, yang jatuh setiap 15 Februari, yang mereka namakan Lupercalia. Peringatan ini dirayakan guna menghormati perkawinan antara Dewa Juno (Tuhan Wanita) dengan Dewa Pan (Tuhan dari alam ini),dalam agama pagan Romawi kuno.. Pada saat itu, digambarkan orang-orang muda “laki-laki dan wanita” memilih pasangannya masing-masing dengan menuliskan nama atau mengundi nama dari orang-orang yang diminati dan dicintainya, kemudian pasangan ini saling tukar bertukar hadiah sebagai pernyataan cinta kasih. Acara ini dilanjutkan dengan berbagai macam pesta hura-hura bersama pasangan masing-masing. Setelah penyebaran agama Kristen, Para Pemuka Gereja mencoba memberikan pengertian ajaran Kristen terhadap para pemuja berhala itu. Pada tahun 496 Masehi, Paus Gelasius (Pope Gelasius) mengganti peringatan Lupercalia itu menjadi Saint Valentine’s Day, yaitu Hari Kasih Sayang Untuk Orang-Orang Suci.
Di lain versi lagi, banyak pula ahli sejarah lain yang mengkaitkan Hari Valentine tersebut dengan Pendeta St. Valentine yang lain. St. Valentine yang satu ini adalah seorang Bishop (Pendeta) di Terni, satu tempat sekitar 60 mil dari Roma. Pendeta tersebut dikejar-kejar karena mempengaruhi beberapa keluarga Romawi dan memasukkan mereka ke dalam agama Kristen. Kemudian ia dipancung di Roma sekitar tahun 273 masehi. Sebelum kepalanya dipenggal, Pendeta itu mengirim surat kepada para putri penjaga-penjaga penjara dengan mendo’akan semoga bisa melihat dan mendapat kasih sayang Tuhan dan kasih sayang manusia. “Dari Valentinemu” demikian tulis Valentine pada akhir suratnya itu. Surat itu tertanggal 14 Februari 270 M. sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang. St.Valentine diangap sebagai lambang kasih sayang, apalagi pendeta tersebut dihukum sebab keberaniannya melawan penguasa Romawi, ditambah lagi di akhir hayatnya pendeta itu memberikan ucapan kasih sayang kepada putri orang yang menghukumnya, maka sebagai lambang Kahis sayang, dijadikanlah hari kematiannya tersebut menjadi hari kasih sayang.
Sejak kematiannya kisah Saint Valentine seperti tertiup angin, menyebar dan meluas sampai tak satu pelosok di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan Nenek mendongengkan cerita Saint Valentine pada cucunya sebagai dengan nada semangat dan penuh ekspresi. Orang-orang tua selalu menasehatkan pada anaknya, “kelak jika besar nanti, jadilah kau seperti Saint Valentine.” Pokoknya, Saint Valentine adalah sosok idola. Tutur katanya, gaya hidupnya, ketaatannya dalam memegang teguh keyakinannya menjadi acuan semua orang. Sampai pada akhirnya nama Valentine menjadi simbol kasih sayang. Tapi kebiasaan ini tak lama bertahan, sedikit demi sedikit kebiasaan menghormati Saint Valentine sebagai tokoh yang penuh kasih sayang berubah. Peringatan kematian Saint Valentine pada tanggal 14 Pebruari berubah menjadi hari memilih pasangan di antara kaum muda. Saling memberi hadiah dan mengucapkan rasa suka. Akhirnya dari hari kasih sayang, menjadi hari cinta berahi, dan hari kemaksiatan. Dari sejarah perjalanan Valentine’s Day ini, sudah selayaknya umat Islam, khususnya generasi muda, untuk tidak mengadakan, memperinci, bahkan mengistimewakannya. Dari kajian sejarah diatas terbukti bahwa Hari Valentine bukanlah sekedar budaya Barat tetapi budaya yang berhubungan dengan agama Romawi kuno, yang masih menyembah dewa – dewa dan juga berhubungan dengan agama Nasrani. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa seorang muslim tidak boleh sama sekali ikut-ikutan dalam merayakan hari Valentine tersebut, karena dengan ikut merayakannya berarti juga merayakan hari kebesaran agama yang lain.
Umat Islam harus sadar bahwa orang kafir akan berusaha untuk merusak agama kita dengan berbagai cara, termasuk dengan memasukkan budaya mereka dalam kehidupan muslim. Inilah yang dijelaskan dalam kandungan Surah Al Baqarah ayat 120 yang artinya : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (cara hidup) mereka. katakanlah ; sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.
Dalam surat itu Allah ingin menyampaikan pesan, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah berhenti dan tidak pernah lelah melakukan usaha mereka. Dengan cara halus ataupun menghalalkan segala cara. Salah satunya dengan menggerogoti mental dan akidah pemuda-pemuda Islam. Jika pemuda Islam yang di masa depan diharapkan menjadi pembela dan pembawa panji kebesaran Islam sudah porak poranda, tinggal menunggu waktunya saja untuk menghancurkan.
Dalam firmannya yang lain Allah juga memperingatkan, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mengetahui tentang hal itu. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabann ya.” (QS. Al Israa’:36). Dari ayat ini umat Islam tidak boleh mengikuti sesuatu tanpa menegtahui asal-asul sesuatu tersebut. Sejarah menyatakan bahwa \Valentine itu adalah budaya romawi kuno dan agama Kristen, oleh sebab mengikuti perayaan tersebut, membesarkan hari tersebut sama dengan membesarkan hari agama lain. Tapi sangat disyangkan pada saat sekarang ini, banyak generasi muslim, malahan ada partai politik islam yang menjadikan perayaan hari Valentine menjadi kesempatan menarik pemilih muda dengan ikut-ikut merayakannya.
Dalam sebuah sabdanya Rosulullah berpesan, “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia menjadi bagian atau menjadi satu dengan kaum yang ditirunya.” (HR. Ibnu Hambal dan Abi Daud). Hadis ini menyatakan bahwa umat Islam tidak boleh meniru apapun kebiasaan dari suatu kaum yang lain, sebab dengan meniru perayaan tersebut, maka \nabi Muhammad meyatakan bahwa umat Islam sudah menjadi bagian kaum yang lain. Umat Islam tanpa sadar pada saat sekarng ini sudah terlalu banyak meniru perayaan dari suatu kaum, baik dalam pakaian, tanpa menghiraukan apakah pakaian itu membuka aurat tetapi karena model, fasion, maka pakaian itu dibeli, sebab ingin sama dengan orang barat. Dalam budaya seni juga selalu ikut dengan seni barat, tanpa melihat apakah seni musik, seni budaya, itu untuk memuji Allah atau untuk mengutarakan nafsu birahi dan lain sebagainya.
Dalam Islam, sikap kasih sayang merupakan sikap yang wajib dimiliki oleh setiap muslim dimanapun dia berada, dan simbol kasih sayang seorang muslim hanya rasulullah saw.. Dalam sirah kehidupan rasul, terbukti bahwa Rasulullah adalah contoh teladan bagi kasih sayang, bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada hewan dan makhluk lainnya. Malahan sikap kasih sayang rasulullah telah mendapat pujian dari Allah dengan firmanNya : ” Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu , sangat menginginkan keimanan bagimu, amat belas kasihan lagi penyaynag terhadap sekalian orang yang beriman ” ( QS. At Taubah : 128 ). Dari ayat ini terlihat bahwa bagaimana Rasulullah sangat memperhatikan segala sesuatu yang dapat menyelamatkan kehidupan manusia bukan saja dari penderitaan di dunia, juga daripada penderitaan di akhirat. Oleh sebab itu beliau tanpa pernah jemu mengajak umat manusia dalam keimanan sebab dengan cara itulah manusia selamat dari segala bentuk kesusahan dunia dan akhirat.
Rasulullah sangat menganjurkan kasih sayang kepada seapa saja, sehingga beliau bersabda : ” Tidaklah kamu termasuk orang beriman, sebelum kamu saling kasih-mnengasihi ”. Sahabat bertanya : ” Ya rasulullah, kami telah berbuat saling sayang-menyayangi sesama kami ”. Rasulullah saw menjawab : ” Kasih sayang yang aku maksudkan bukanlah kasih sayang hanya sebatas kamu dengan kelompokmu saja, atau sesama kamu saja, tetapi kasih sayang yang kamu berikat kepada semua orang ” ( Hadis riwayat Thabrani ). Hadis ini menyuruh umat Islam untuk saling kasih mengasihi bukan hanya sesama kelompok atau golongan, sebagaimana banyak terjadi sekarang ini, tetapi untuk sekalian manusia semuanya, dan itu merupakan bukti keimanan seorang muslim.
Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda : ” Demi Dzat yang diriku berada ditanganNya, sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan kasih sayangNya kecuali kepada orang yang berhati belas kasihan kepada orang lain ”. Sahabat berkata : ” Ya rasulullah, kami sudah saling menyayangi sesama kami ”. Rasulullah menjawab : ” Bukanlah belas kasihan itu hanya sebatas antara diri kamu dengan isteri dan kelompok kamu saja, tetapi kasih sayang yang diperintahkan itu adalah kasih sayang kepada seluruh kaum muslimin. ” ( hadis riwayat Tirmidzi ). Dari hadis ini terlihat bahwa kasih sayang Allah kepada umat Islam akan datang jika umat Islam saling kasih mengasihi sesama umat Islam seluruhnya, bukan hanya sekadar satu kumpulan, satu golongan, satu mazhab, satu partai, dan lain sebaginya sebagaimana yang terjadi selama ini. Malahan dari hadis ini dapat dipahami, bahwa rahmat dan kasih sayang Al;lah terhalang kepada umat islam hari ini akibat akibat sikap umat Islam yang hanya mengasihi kawan sekelompok, satu usrah, satu partai saja, tanpa mengasihi umat Islam di kelompok yang lain atau golongan yang lain. Semoga di masa mendatang umat islam tanpa memperlihtakan sikap kasih sayang kepada semua orang tanpa harus mengikuti Hari Kasih Sayang Gaya Valentine. Mari tunjukkan umat Islam adalah umat kasih sayang dengan mencontoh kasih sayang rasulullah saw . Fa’tabiru ya ulil Albab.